Monday, July 11, 2016

Lesson on July: L O V E

Hi there, readers!
Setelah berhari-hari hingga berganti bulan, akhirnya saya mem-posting blogg baru. Maklum, baru ada waktu untuk mengeluarkan ‘mood’ menulis. Halah, kayak apa aja bahasanya “mood menulis”. Gak ada bakat menulis sih, kalau di liat-liat mah. Masih berantakan.
Alright, takut nya saya banyak bicara ini itu yang tidak jelas, saya akan start menulis seperti judul diatas.
                Blogg kali ini diawali dengan ucapan “Terimakasih banyak” untuk para keluarga yang sudah menasehati saya selama ini. Keluarga yang saya maksud disini adalah, Ibu, sanak saudara dari (alm) Kakek; dari Keluarga Ayah – Nin Enju, Nin Opah. Nasehat-nasehat yang saya dapatkan kebetulan keluar dari mulut-mulut perempuan hebat yang membuat saya speechless dan membuat saya untuk intropreksi dan lain-lain.


                Suasana lebaran kali ini paket kumplit. Dimana tahun ini adalah tahun ke dua lebaran kumplit bareng keluarga inti, tahun ke dua lebaran di Indonesia, Bandung. Tahun ini, menghabiskan waktu lebaran lebih banyak dengan keluarga dari Ayah.
Sedikit flashback, supaya gak bingung.

Setiap keluarga tidak selalu perfect ya. Dan membangun sebuah keluarga tidak mulus melulu. Pasti ada aja gejolak-gejolak yang membuat kita ups and downs. Tidak selalu kedua sepasang perempuan dan laki-laki itu tidak terus menerus berjalan berdampingan. Bisa jadi mereka akan berpisah dengan banyak alasan. Selain sepasang perempuan dan laki-laki ; alias suami istri, tidak melulu anak-anaknya menjadi anak yang selalu patuh kepada kedua orangtuanya. Tapi, pasti ada aja yang membuat si anak memiliki kelakuan yang mungkin bisa dibilang nyaris durhaka kepada Ibunya atau sebaliknya.

Ya, semoga kalian mengerti apa yang saya maksud di atas. Gak bisa saya ceritain secara rinci, karena itu semestinya milik pribadi.
Dari kejadian di atas tadi, saya mendapatkan satu nasehat yang singkat dari Ibu. Posisinya kejadian diatas itu baru saja di rundingkan di dalam rumah, disaat lebaran (siang hari). Ibu bilang gini:

                “Tuh ka.. Bukannya apa-apa ya Ibu ke kamu kalau deket sama orang. Kita harus tahu seluk beluk orang tersebut. Harus tahu orang tuanya gimana. Saudara-saudaranya juga. Ya pokoknya jelas lah tentang orangitu nanti. Bukan apa-apa (lagi). Ini mah supaya jelas aja dia orangnya kayak apa. Biar gak kejadian kayak gitu kan. Gak mau nyesel kan nantinya?”

The key is: Kenali DIA dengan baik, dan seluk beluk keluarganya.

Malamnya, setelah bincang-bincang lama di rumah. Makan lagi di ronde ke empat (untuk perut saya ya!). Tepatnya di tukang bakso dekat rumah. Sambil nunggu mamangnya nyodorin mangkok-mangkok bakso, saya dan Ibu bincang-bincang lagi seputar ‘rumah tangga’. Dan lagi, Ibu bilang gini:

                “Laki-laki itu di liat dari kesungguhannya mereka ke kita kak. Kalau dia betul-betul sayang sama kita, dia pasti akan usaha dan berani berkorban untuk kita kok. Yaaa..intinya dia pasti akan betul-betul ngejarlah. Contohnya tuh, Ayahmu, apa-apa dia gak mau kalau gak ada Ibu. You know lah what I mean.”

The key is: DIA akan berusaha dan rela berkorban.

Keesokan harinya. Hari ke-2, lebaranan ke rumah Nin Enju. Nin Enju ini selalu membuat saya rindu Kakek (alm). Kenapa? Karena mukanya sangat mirip dengan beliau. Ah, I miss him so much. Ayah bilang, rumah Nin Enju ini dari jaman Ayah sekolah sampai kerja selalu menjadi tempat persinggahan untuk mereka yang mau ngeluarin unek-uneknya alias curhat. Yang pasti beliau ini tau cerita kejadian diatas yang tadi saya ceritakan. Nin Enju bilang gini:

                “Jadi anak itu jangan sampe deh teh Egi, jangan sampe kita durhaka sama orangtua. Terutama sama Ibu nya sendiri…. Jadi perempuan juga kudu jadi yang bener teh Egi…”

The key is: Hormati dan sayangi kedua orangtua, terutama Ibu.

Malamnya, suasana rumah Nin Opah di Ciparay. Masih bersama keluarga Nin Enju juga yang pergi bareng-bareng ke Ciparay. Awalnya saya gak ngeh kalau Nin Opah ini adalah adik/kakaknya (alm) Kakek saya. Lupa lagi. Mungkin berkat saya nanya, “Bu. Nin opah itu dari keluarga nya siapa?” “Kakek kak! Keluarga Ayah” “Ooohh Ya Ampun…pantes kok mirip mukanya kayak Kakek” seketika suasana ruang tamu rumah Nin Opah, orang-orang di dalam ngetawain saya. (-_-)
Nin Opah says:

                “Don’t worry. Tomorrow is better. Always smile to everybody, but keep one person in your heart”

Umurnya udah tua, tapi masih aktif ngomong bahasa Inggris. Ya walaupun Inggrisnya ada ‘sunda’-an. (wkwkwkkww).

Ok that’s all folks!
Itu saja curhat-an saya malam ini.
Taqabballahu minna wa minkum,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah.
Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Regards,
Gie.

No comments:

Post a Comment